Tempat Terindah
Rangkaian
biji-biji tasbih itu terus menyatu disatukan oleh benang yang kokoh dan anti
putus. Siapa pun yang berusaha memutuskan benang itu, maka tangan yang
merusaknya akan terluka, dan tidak bisa disalahkan, mengapa benang itu tak juga
putus ?, ketahuilah ! Allahlah yang menjaga untaian tali tasbih itu.
Ukhuwah itu
terus terjalin. Teringat lima tahun
silam kami dipertemukan oleh Allah dengan
cara yang baik dalam sarana dakwah. Saat itu kamu masih kelas lima SD,
sedangkan diriku lebih tua 1 tahun 7 bulan 10 hari dari kamu, yakni kelas 7
MTs. kamu mampu mengenalku dengan baik, begitu juga aku, aku mampu mengenalmu
dengan sangat baik.
Tempat dan
waktu yang memisahkan kami.., kami terpisah selama 2 tahun, tidak ada kabar dan
informasi mengenai dia maupun aku. lalu Allah pun menyatukan kami kembali
ketika aku kelas 10 SMA. Saat itu kakak nya sebagai kakak kelasku, kelas 12
SMA, sebagai OSIS kakak nya mampu mengenaliku bahwa ternyata aku adik dari
kakak kelasnya dulu. aku senang bisa bertemu orang-orang yang dulu nya selalu
meramaikan rumahku dengan tabuan marawis yang mampu menyayat hati. Beberapa
hari kemudian, kakaknya memberikan no.handphone nya padaku. Jujur aku rindu
sekali padanya, dengan segera ku hubungi dirinya dan dirinya tersentak kaget.
yah pantas dia kaget, karena sudah sekian lama kami terpisah dan dipersatukan
kembali. Setelah kurang lebih selama dua bulan kami berkomunikasi dia
berkunjung ke rumahku. o'ya panggil saja ia dengan sebutan Aziz, bagiku dia
orang yang kuat dan mampu menguatkan diriku. Aziz dengan malu menginjakkan kaki
nya di pelataran rumahku. kami sudah lama tak bertemu, Aziz nampak berbeda dari
yang dulu. sifa kekanak-kanakannya perlahan mulai pudar, yang nampak hanya
wajah optimisme dan siap menyongsong masa depan yang indah.
Dia memanggilku
"Din", dengan segera ku balas panggilannya itu,
"Iya","malu Din", ungkapnya padaku. namun aku hanya
membalasnya dengan senyuman.
"mau duduk
dimana Ziz ?" tanyaku
"duduk di
sawah aja yah din".
Aku menuju
sawah tempat favorit kami sambil membawa tikar dan dia pun mengikuti langkahku.
setelah kami menggelar tikar, dia kupersilahkan duduk. dengan segera ku
berjalan tuk membawakannya minuman botol dan sepiring kue pia. "ayo
dimakan ziz", ujarku. "iyah din"
Suaramu
terdengar serak, aku tahu sebelumnya kamu bilang bahwa tenggorokanmu lagi sakit
sehingga membuat suaramu timbul tenggelam,hehe. Tapi aku pun sama, pada saat
itu penyakit batuk menyerang tenggorokanku, sehingga membuat suaraku seperti
toa masjid yang rusak.
Heningnya sawah
membuat kami terdiam, tak ada suara atau obrolan yang lancar diantara kami,
hanya angin yang mampu melukiskannya. Beberapa lama kemudian, dia memulai
pembicaraan,
"Din, baju
kita koq sama ya ?" ungkapnya sambil tersenyum
"lah,,masa???"
dengan segera ku tengok baju yang ku kenakan, "iya Ziz sama, koq bisa
ya,duh" hehe aku mau ketawa tapi malu, kenapa ya bisa mirip baju kami
?,berawal hal yang aneh,ungkapku dalam hati.
Dia tersenyum,
senyum yang sama 2 tahun yang lalu.
"kamu
tampak berbeda Din"
"Kamu pun
iya, bahkan sangat berbeda. Sudah berapa banyak perempuan yang kamu pacarin
?"
hehehe kami
tertawa bersama.
"bisa aja
kamu Din", ungkapnya
Ebtah kami
bingung sekali apa yang harus kami bicarakan lagi untuk memecahkan keheningan
diantara kami. Anginlah yang mampu mengisi tiap-tiap pikiran kami.
Tiba-tiba saja
hp ku berdering. satu pesan masuk dari Aziz, 'Ngomong dong Din', begitulah sms
yang ku baca."kamu ngapain sms aku ?"
"hehe,
iseng din"
"kalau mau
ngomong, ngomong aja lagi"
lagi-lagi kami
tersenyum,,
Pertemuan yang
indah, sekitar satu jam kami menikmati angin yang perlahan-lahan merasuki
tiap-tiap rusuk tulang kami. perlahan namun pasti. Pertemuan yang tidak
bisa kami lupakan sampai sekarang. Berasal dan berawal dari sanalah kami mulai
memendam rasa. Rasa yang tidak kami ketahui apa itu, dan sampai sekarang tempat
itu menjadi tempat terindah bagi kami.
_ El-Syifamy _
0 komentar